Literasiruwajurai.com — Pagi itu, Selasa (10/3/2026), suasana SMAN 5 Bandarlampung terasa berbeda. Di tengah keberkahan bulan suci Ramadan, langkah-langkah para siswa memenuhi aula dan masjid sekolah.
Mereka datang bukan sekadar untuk belajar seperti biasa, melainkan untuk menjemput cahaya ilmu dan memperdalam iman melalui kegiatan Pesantren Kilat.
Selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 Maret 2026, siswa kelas X dan XI mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menguatkan keimanan sekaligus memperluas wawasan mereka sebagai generasi masa depan.
Pesantren Kilat ini bukan kegiatan baru. Setiap tahun, sekolah menghidupkan tradisi ini sebagai cara mengisi Ramadan dengan hal-hal yang bermakna. Namun tahun ini terasa lebih istimewa.
Dengan tema “Membangun Jiwa Pelajar yang Berakhlak Mulia dan Berwawasan Global dengan Iman dan Takwa,” para siswa diajak tidak hanya menundukkan hati kepada Tuhan, tetapi juga membuka mata pada dunia yang lebih luas.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, yang menyapa para pelajar secara daring bersama sekolah-sekolah lain di Lampung.
Dalam pesannya, ia berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi para siswa untuk memperkuat iman sekaligus menambah pengetahuan.
Setelah pembukaan, suasana kegiatan terbagi. Para siswa laki-laki melangkah menuju Masjid Raudhatul Ulum, sementara para siswi tetap berada di aula sekolah.
Di dua ruang berbeda itu, perjalanan mencari ilmu pun dimulai. Materi yang disampaikan tidak hanya berkutat pada ibadah semata.
Para siswa juga diperkenalkan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)—sebuah gagasan besar tentang bagaimana dunia berusaha menjadi tempat yang lebih adil dan berkelanjutan.
Melalui pembahasan SDGs poin 4, 10, dan 13, para pelajar diajak memahami bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat global yang kelak turut menentukan arah masa depan bumi.
Di sesi lain, para siswa mempelajari thaharah dan salat, dua fondasi penting dalam kehidupan seorang muslim. Sementara bagi para siswi, kajian fikih perempuan membuka cerita tentang perempuan-perempuan tangguh di masa Nabi yang menjadi teladan sepanjang zaman.
Ada pula materi tentang tata cara mengurus jenazah, sebuah pelajaran yang mengingatkan bahwa kehidupan manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Para siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mempraktikkan bagaimana mensalatkan jenazah dengan benar.
Perjalanan spiritual itu kemudian berlanjut pada materi Ma’rifatullah—sebuah ajakan untuk mengenal Allah SWT lebih dekat melalui nama-nama, sifat-sifat, dan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Sepanjang kegiatan, para siswa tampak khusyuk menyimak. Beberapa menunduk mencatat setiap penjelasan, seolah menyimpan butiran ilmu yang kelak akan menjadi bekal dalam perjalanan hidup mereka.
Kegiatan tahun ini semakin berkesan karena para siswa laki-laki diwajibkan menginap di sekolah selama satu malam.
Di bawah langit Ramadan yang hening, mereka mengisi waktu dengan tadarus Alquran, salat berjamaah, dan salat Tarawih.
Malam itu bukan sekadar tentang ibadah. Ia menjadi ruang kebersamaan—tempat tawa, cerita, dan doa bertemu dalam kehangatan persaudaraan.
Pesantren Kilat di SMAN 5 Bandar Lampung mungkin hanya berlangsung tiga hari. Namun di balik waktu yang singkat itu, tersimpan harapan besar: lahirnya generasi pelajar yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, beriman kuat, dan memiliki pandangan luas tentang dunia.
Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, para siswa tidak hanya belajar tentang ilmu. Mereka juga belajar tentang kehidupan, tentang iman, dan tentang menjadi manusia yang lebih baik. (***)
Redaksi Persisma
Penulis Gisha Okta Arinda XI-F1










