Suasana SMAN 1 Terusan Nunyai tidak seperti biasa. Di perpustakaan sekolah, siswa-siswi tampak larut membaca. Di aula, layar proyektor menayangkan film pendek yang mengundang diskusi.
(Literasiruwajurai.com): Sementara di beberapa kelas, suara sorak dan tawa terdengar dari permainan literasi yang digelar. Hari itu, sekolah terasa riuh tapi bukan karena pelajaran reguler, melainkan karena Jumat Literasi.
Program ini lahir dari prakarsa komunitas literasi sekolah dan perpustakaan. Dengan dukungan guru, mereka menggagas agenda rutin mingguan sejak awal semester. Kini memasuki pekan ketiga, Jumat Literasi telah menghadirkan variasi kegiatan membaca, menonton film bersama, berdiskusi, hingga permainan kuis. Semua dirancang agar literasi menjadi hal yang menyenangkan, bukan kewajiban kaku.
“Kalau cuma membaca, lama-lama jenuh. Tapi karena ada game dan nonton, jadi terasa lebih seru. Jumat jadi hari yang ditunggu,” ujar Dani, siswa kelas XII.7.

Pendapat lain datang dari Yeni, siswi kelas XI.5. “Kadang buku yang ada kurang sesuai minat kami, jadi agak susah fokus. Tapi kalau pas ada nonton atau kuis, semua langsung ikut aktif,” katanya.
Kegiatan ini mendorong siswa lebih aktif berpartisipasi. Catatan perpustakaan menunjukkan jumlah peminjaman buku meningkat sejak program dimulai. Siswa yang sebelumnya jarang masuk perpustakaan, kini terbiasa hadir di ruang baca.
Selain itu, komunitas literasi memberi ruang bagi siswa untuk melatih kreativitas mulai dari membuat resensi singkat, hingga menyusun kuis literasi yang dimainkan teman sekelas.
Meski memberi warna baru, Jumat Literasi juga menghadapi tantangan. Koleksi buku masih terbatas, variasi film belum banyak, dan peralatan proyektor sesekali bermasalah. Selain itu, tidak semua siswa punya minat yang sama ada yang masih menganggap kegiatan ini sebagai “jam kosong” belaka.
Bagi komunitas literasi, menyiapkan format kegiatan tiap pekan juga bukan hal mudah, karena butuh ide segar agar siswa tetap antusias.
Meski begitu, dukungan dari guru menjadi penting. Dengan keterlibatan mereka, koordinasi kegiatan berjalan lebih lancar. Sekolah pun berharap program ini terus berkembang, baik lewat penambahan koleksi perpustakaan, maupun kreativitas dari komunitas literasi.
Kini, Jumat di SMA Negeri 1 Terusanunyai tak lagi identik dengan rutinitas penutup pekan. Ia menjelma menjadi ruang belajar alternatif, di mana siswa menemukan pengalaman baru dari buku, layar, hingga permainan dan meninggalkan kesunyian dengan riuh literasi yang terus tumbuh. (*)

(Penulis: Chika Ramadani, SMAN 1 Terusan Nunyai)










