banner 728x250
Berita  

Menatap Pendidikan dari Pulau Legundi: Disdikbud Wujudkan Janji Gubernur Mirza

banner 120x600

DIKELILINGI kerlap-kerlip pantulan sinar matahari pagi, sebuah kapal kayu nelayan membelah ombak tipis di Teluk Lampung, Rabu (24/9/2025). Di atasnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung, Thomas Amirico, bersama Kepala Bidang (Kabid) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Joni berlayar menuju Pulau Legundi.

Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Kehadiran Thomas merupakan simbol dimulainya langkah konkret Pemerintah Provinsi Lampung untuk menepati janji kampanye Gubernur Rahmat Mirzani Djausal: memastikan pendidikan tak hanya dinikmati anak-anak di kota besar, tetapi juga merata hingga ke pulau-pulau dan daerah terpencil.

Di hadapan para guru, kepala cabang dinas, hingga siswa yang menyambut mereka penuh antusias, Thomas meletakkan batu pertama pembangunan gedung baru sekaligus meresmikan program revitalisasi sekolah di pulau tersebut.

“Pendidikan harus merata hingga ke pulau-pulau dan wilayah terpencil. Anak-anak usia sekolah di sini berhak atas kesempatan yang sama untuk belajar, bermimpi, dan meraih cita-cita mereka,” ujar Thomas, yang dikenal rajin turun langsung ke lapangan.

Selain meninjau fasilitas, Thomas juga menyempatkan diri memotivasi para pendidik dan pelajar. Ia mengingatkan bahwa peningkatan mutu pendidikan Lampung adalah tanggung jawab bersama.

Apalagi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung masih di angka 70,74 – berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 74,39. Dari sisi rata-rata lama sekolah, Lampung baru mencapai 8,7 tahun, artinya masih banyak anak putus sekolah sebelum menuntaskan pendidikan menengah.

Tak hanya itu, angka partisipasi sekolah di tingkat SMA/SMK juga masih perlu didorong. Data Dinas Pendidikan mencatat, dari sekitar 1,2 juta anak usia sekolah menengah di Lampung, hampir 15 persen belum terjangkau layanan pendidikan formal. Kondisi ini semakin nyata di wilayah kepulauan seperti Legundi, di mana akses transportasi dan fasilitas sekolah terbatas.

Untuk menjawab tantangan itu, Pemprov Lampung melalui Disdikbud tengah menggulirkan sejumlah program strategis. “Kami ingin memastikan guru-guru terbaik juga hadir di pulau-pulau, bukan hanya di kota besar,” jelas Thomas.

Langkah lain yang sedang berjalan adalah Revitalisasi Sekolah Rusak. Hingga pertengahan 2025, tercatat ada sekitar 1.200 ruang kelas di Lampung dalam kondisi rusak berat. Pemprov berkomitmen memperbaikinya secara bertahap, dimulai dari daerah dengan akses pendidikan paling terbatas.

Suasana haru pun menyelimuti ketika beberapa siswa menyampaikan harapan mereka. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, ada pula yang ingin menjadi guru untuk kembali mengabdi di pulau. Semua berharap bahwa pembangunan gedung baru, digitalisasi sekolah, hingga dukungan beasiswa akan membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.

“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak Lampung, dari ujung Waykanan hingga pulau-pulau di Teluk Lampung, memiliki hak belajar yang sama. Dengan pendidikan yang berkualitas, kita bisa mendongkrak IPM dan mengejar ketertinggalan dari provinsi lain,” tutup Thomas. (Salsa)