banner 728x250
Berita  

Surat untuk Pahlawan: Pelajar SMKN 3 Bandarlampung Kembali ke Tradisi Pos

banner 120x600

Di tengah budaya menulis surat yang hampir punah tergerus perkembangan teknologi digital, puluhan pelajar SMKN 3 Bandarlampung justru melakukan hal sebaliknya. Mereka bersama-sama mengirim surat secara konvensional melalui Kantor Pos Cabang Telukbetung.

Dua guru pendamping, Gusriany dan Rifany, turut mengantarkan para siswa dalam pengiriman surat tersebut. Kegiatan itu dilakukan bertepatan dengan hari terakhir batas pengiriman karya untuk lomba menulis surat tingkat nasional.

Pihak Kantor Pos mengaku terkejut sekaligus bangga. SMKN 3 menjadi sekolah pertama yang datang dan mengirimkan surat untuk lomba tersebut di cabang itu. Mereka mengapresiasi semangat para siswa generasi Z yang bersedia mengenal kembali tradisi surat menyurat.

Kegiatan ini berawal dari kunjungan PT Pos Indonesia ke sekolah pada 30 Oktober 2025, dalam rangka sosialisasi lomba menulis surat bertema “Surat untuk Pahlawanku.” Informasi lomba itu juga telah tersebar di berbagai media sosial sehingga menarik minat siswa.

Antusiasme siswa semakin tinggi setelah mengetahui hadiah yang ditawarkan mencapai total Rp90 juta dari Kementerian Kebudayaan RI. Namun, bukan soal hadiah saja yang mendorong mereka ikut serta.

“Saya termotivasi mengikuti lomba ini sebagai bentuk mengenang jasa para pahlawan,” ujar Khadafi, salah satu peserta. Ia mengaku senang karena lomba ini memberinya pengalaman baru: belajar menulis surat dengan benar sekaligus mengetahui proses pengirimannya melalui kantor pos.

Lomba menulis surat ini merupakan kerja sama Kementerian Kebudayaan RI, Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI), dan PT Pos Indonesia, yang diperuntukkan bagi siswa SMP, SMA/sederajat, hingga mahasiswa S1. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka Pekan Surat Menyurat Internasional atau World Post Day yang diperingati setiap 9 Oktober.

Budaya berkirim surat yang telah menjadi bagian perjalanan peradaban manusia kini semakin tergerus oleh teknologi digital. Pesan instan menggeser pengalaman menulis dengan pena di atas kertas—suatu praktik yang penuh proses, rasa, dan refleksi.

Indonesia, sebagai bagian dari Perhimpunan Pos Sedunia, memiliki kepentingan menjaga tradisi ini agar tidak hilang dari ingatan. Sebab, menjaga budaya surat menyurat berarti menjaga sebagian dari sejarah dan peradaban itu sendiri.(Madame Dyah, SMKN 3 Bandarlampung)