Oleh Gufron Azis Fuandi
Ustadz
BEBERAPA waktu yang lalu, ana diminta untuk memberikan talaqi madah rasmul bayan. Mengapa rasmul bayan? Karena diasumsikan bahwa melalui rasmul bayan ini para binaan dapat lebih mudah dibentuk pemahaman fikrahnya secara terstruktur dan komprehensif. Pengalaman telah membuktikan.
Talaqqi Madah adalah proses penyampaian materi pelajaran secara langsung dari guru kepada murid. Atau oleh instruktur kepada para peserta daurah atau pelatihan.
Kepada panitia yang meminta saya mengisi acara tersebut saya sampaikan bahwa daurah talaqi madah ini cukup berkelas, karena para peserta diberikan buku Syarah Rasmul Bayan, sehingga cukup melihat dan mendengar tanpa repot repot menulis atau mencatat.
Dengan demikian peserta tidak terpecah konsentrasinya antara mendengarkan penjelasan materi dan menulis dibuku catatan. Tapi tanpa disadari, disitulah sebenarnya salah satu titik lemahnya. Yaitu tidak mencatat atau tidak menulis.
Itulah mengapa dulu, tiga puluh lima tahunan yang lalu, kami mengikuti daurah talaqi madah harus mencatat, sehingga tidak disediakan fotokopi materi. Harus mencatat! Karena ternyata mencatat atau menulis pelajaran yang disampaikan guru , pembimbing atau pembina memiliki keunggulan tertentu dibanding membaca dan mendengar (saja).
Diantara keunggulan menulis atau mencatat adalah:
(1). Menulis Membuat Otak Bekerja.
Ketika seseorang mendengar, otak cenderung pasif. Tetapi ketika harus mencatat maka otak mulai aktif bekerja untuk memilih mana informasi yang penting, kemudian menyusunnya dan menuliskan degan bahasanya sendiri. Otak juga aktif bekerja memilah dan memilih kata (diksi) yang cocok dan mudah diingat. Maka disinilah (aktif bekerjanya otak), letak belajar yang sebenarnya.
(2). Menulis Adalah Jejak Ingatan.
Betapa banyak orang yang paham dan jelas ketika mendengar materi pelajaran atau ceramah. Tapi tidak sedikit yang kemudian, setelah beberapa waktu berlalu, mengatakan tadi saya faham tetapi sekarang agak lupa… Bila lebih lama lagi, bisa dipastikan lebih banyak lagi yang terlupakan.
Hal ini wajar karena tidak semua orang memiliki ingatan yang kuat. Oleh karena itu agar tetap ingat dengan materi yang didapat, tulisan atau catatan sangat dibutuhkan. Itulah mengapa tulisan atau catatan sering disebut sebagai jejak ingatan.
(3). Melatih Fokus dan Disiplin.
Saat seseorang mencatat, yang terjadi adalah tangan menulis, mata melihat dan telinga mendengar secara bersamaan. Ini melatih fokus dan kordinasi antara berbagai organ tubuh atau panca indera. Kordinasi dan disiplin tiap organ panca indera terhadap tugas dan fungsinya masing masing adalah kunci suksesnya suatu kolaborasi.
(4). Menulis atau Mencatat Membantu Murid (Anak) Mandiri.
Bagi seorang murid, mencatat juga melatih untuk mandiri. Karena guru dan orang tua tidak selalu ada disisinya. Tidak semua anak memiliki hafalan atau daya ingat yang kuat. Maka catatan menjadi pegangan yang paling mudah dipelajari dan bisa diandalkan, karena berisi jejak materi pelajaran berdasarkan bahasa dan pemahamannya sendiri. Dia memahami tidak saja kalimatnya tetapi bahkan makna dari setiap titik, koma juga garis miringnya.
(5). Menulis Adalah Latihan Berpikir.
Mencatat adalah latihan olah pikir. Karena dalam mencatat terjadi proses merangkum (penjelasan yang panjang lebar), kemudian menyederhanakan dan menyusun kembali pemahaman yang ditangkap dalam bentuk kalimat atau diagram yang mudah dan simpel. Karena belajar pada dasarnya adalah proses transformasi dari sesuatu yang sulit dan ribet menjadi sesuatu yang mudah dan sederhana. Sehingga orang yang kurang intelek pun bisa memahaminya.
Karena dakwah dan tarbiyah bukan hak khusus anak sekolah dan kampus tapi hak semua orang termasuk hak para buruh, tukang kayu dan batu yang mungkin pendidikannya tidak tinggi.
Itulah mengapa orang Jawa menyebut orang yang sedang belajar disebut “ngelmu”, dari “angel nek durung ketemu”. Sulit bila belum ketemu (simpulnya).
Lebih dari itu, kebiasaan mencatat dan menulis adalah life skill, ketrampilan hidup yang sangat berguna dalam kesuksesan anak anak masa depan.
Karena betapa banyak orang yang memiliki ide dan gagasan brilian tetapi tidak dapat ditindak lanjuti hanya karena tidak mampu menuliskannya dalam kertas kerja atau proposal yang bisa diakses oleh pihak lain yang berkepentingan untuk ditindaklanjuti menjadi produk baru.
Karenanya tidak heran bila berdasarkan konsep terapi menulis dan pembelajaran aktif, menyebutkan bahwa menulis membantu menginternalisasi pelajaran hingga 60% atau lebih. Menulis tangan melibatkan aktivitas motorik dan kognitif yang memperkuat memori, menjadikannya metode efektif untuk memahami dan mengingat informasi.
Beberapa ayat dalam Al-Quran menekankan pentingnya pena (qalam) atau alat tulis, ilmu pengetahuan, dan dokumentasi. Wahyu pertama, surat Al-‘Alaq: 1-5, memerintahkan membaca dan menulis (ayat 4-5) dengan pena sebagai alat pengajaran.
Bahkan dalam surat Al Qolam ayat 1 Allah bersumpah demi pena, untuk menunjukkan betapa pentingnya kegiatan menulis dan mencatat ilmu.
“Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Al Qolam, 1). Menulis dalam Islam dipandang sebagai ibadah dan sarana untuk melestarikan ide, gagasan, dan ilmu pengetahuan.
Allahu a’lam bi shawab
(Gaf)




